Empat Pelajaran Liao Fan — Ceramah tentang Mengubah Nasib dan Mewujudkan Impian
"Empat Pelajaran Liao Fan" adalah buku yang sangat berpengaruh dalam hidup saya. Saya sangat menyukai buku ini, sering membacanya, dan telah banyak menyampaikan ceramah tentangnya.
Master Yin Guang, seorang guru besar Buddha dari aliran Tanah Suci, sangat gencar mempromosikan tiga buku: Empat Pelajaran Liao Fan, Kitab An Shi, dan Kumpulan Gan Ying Pian. Ia mencetaknya dalam jumlah besar. Saya heran — mengapa seorang master Buddha besar tidak menyebarkan kitab suci Buddha, melainkan tiga buku ini? Saya yakin ada alasan besar di baliknya.
China selama hampir satu abad telah meninggalkan budaya tradisionalnya, dan Buddhisme pun mengalami kemunduran parah. Meskipun ajaran Konghucu dan Buddha adalah ajaran murni, namun karena sudah lama diabaikan, butuh waktu 50–100 tahun untuk melihat hasilnya jika kembali digunakan. Karena itulah Master Yin Guang mengambil pendekatan pendidikan sebab-akibat (karma). Ini adalah kebijaksanaan sejati dan ekspresi welas asihnya yang tak terbatas.
Di dunia saat ini, setiap negara masyarakatnya bergolak. Saya semakin merasakan pentingnya pendidikan karma. Dan tidak ada bahan ajar karma yang lebih baik daripada Empat Pelajaran Liao Fan, Kitab An Shi, dan Kumpulan Gan Ying Pian.
Liao Fan (nama asli Yuan Huang, nama kehormatan Kun Yi) berasal dari Kabupaten Wu Jiang, Jiangnan. Ia lahir pada tahun ke-14 era Jiajing, Dinasti Ming (1535 M), lebih dari 400 tahun lalu. Buku ini adalah empat surat wasiat yang ditulis Liao Fan untuk mendidik putranya. Dari sini kita bisa melihat bahwa memperbaiki diri dan berubah itu berat, terutama 20 tahun pertama. Namun di usia senja, ketika praktiknya sudah matang, berhenti berbuat jahat dan berbuat baik menjadi semakin mudah.
Baik ajaran Konghucu maupun Buddha sama-sama dimulai dari rasa hormat dan sungguh-sungguh. Setiap tingkat penghormatan akan melahirkan kebijaksanaan yang sepadan. Dengan penghormatan penuh, lahirlah kebijaksanaan penuh — memahami hakikat alam semesta, masa lalu, masa kini, dan masa depan, melampaui ruang dan waktu.
Dalam Avatamsaka Sutra dikatakan: "Semua makhluk memiliki kebijaksanaan, kebajikan, dan wujud sempurna Tathagata." Namun "karena delusi dan kemelekatan, mereka tidak bisa menyadarinya." Kita telah terdelusi selama kalpa yang tak terhitung, kehilangan hakikat sejati kita dan bertindak berdasarkan pikiran delusi. Akar dari semua ini adalah anggapan bahwa ada "aku" (ego).
Master Yin Guang menuntun kita untuk memulai dari Empat Pelajaran Liao Fan — ini adalah jalan yang benar. Mari kita jadikan empat bab ini sebagai pelajaran, sebagai latihan sehari-hari, merenungkan setiap kata dan kalimat, lalu menerapkannya dalam hidup, pikiran, dan perilaku kita. Di atas fondasi ini, barulah kita memasuki pintu Buddhisme — hasilnya akan berlipat ganda.
Menentukan nasib berarti nasib itu memang ada — tetapi nasib bisa diubah. Siapa yang menguasai nasib? Diri sendiri. Jika diri sendiri menguasai nasib, tentu diri sendiri bisa mengubahnya. Inilah prinsip dasar "Ilmu Menentukan Nasib".
"Aku kehilangan ayah di masa kanak-kanak. Ibuku menyuruhku berhenti mengejar gelar sarjana dan belajar kedokteran. Katanya, itu bisa menghidupiku, membantu sesama, dan jika mahir, bisa menjadi terkenal — itu juga keinginan almarhum ayahmu."
Sejak kecil, Liao Fan kehilangan ayah. Keluarga tidak kaya. Ibunya menyarankannya untuk tidak melanjutkan sekolah, melainkan belajar pengobatan — untuk mencari nafkah dan menolong orang sakit. Ini juga adalah cita-cita almarhum ayahnya. Di zaman dulu, belajar adalah demi meraih pangkat dan mengabdi pada masyarakat. Namun jika tidak punya bakat, rezeki, atau kesempatan, hal itu tidak bisa dipaksakan.
"Suatu hari aku bertemu seorang lelaki tua di Kuil Ciyun. Ia berjanggut panjang, berwibawa, seperti dewa. Aku memberi hormat padanya. Ia berkata, 'Kamu ditakdirkan menjadi pejabat. Tahun depan kamu akan lulus ujian sarjana. Mengapa tidak sekolah?' Ia memberitahu bahwa namanya Kong, dari Yunnan, pewaris ilmu Shu Zi Huang Ji — ilmu perhitungan nasib tertinggi."
Liao Fan membawa pulang Tuan Kong dan menceritakannya pada ibunya. Sang ibu berkata, "Layanilah dia dengan baik. Coba uji kemampuannya." Ternyata ramalan Tuan Kong sangat akurat, hingga Liao Fan pun berniat untuk sekolah lagi.
"Tuan Kong menghitung: dalam ujian kabupaten peringkat 14, ujian prefektur peringkat 71, ujian provinsi peringkat 9. Tahun berikutnya, semua tepat sesuai ramalan. Kemudian ia meramal seluruh hidupku: tahun berapa lulus ujian apa, tahun berapa dapat beasiswa, tahun berapa jadi bupati, menjabat 3,5 tahun lalu pensiun. Meninggal di usia 53 tahun, tanggal 14 Agustus, jam 01.00–03.00 pagi, di ranjang sendiri. Sayangnya tidak punya anak. Semua kucatat dengan saksama."
Sejak itu, setiap kali ujian, peringkatnya selalu tepat seperti yang diramalkan Tuan Kong. Satu-satunya hal yang agak meleset adalah soal beras jatah — diramalkan 91,5 shi (ukuran) baru naik pangkat, tapi ternyata 70 shi lebih sudah ada usulan kenaikan. Namun kemudian ada pejabat lain yang membatalkan usulan itu. Giliran pejabat berikutnya yang memeriksa, ia menemukan naskah ujian Liao Fan dan berkata, "Lima esai ini sama bagusnya dengan makalah untuk kaisar! Masa orang sepintar ini dibiarkan jadi sarjana rendahan seumur hidup?" Maka ia mengusulkan kenaikan pangkat lagi, dan kali ini disetujui. Dan ternyata total beras jatah yang diterima Liao Fan hingga naik pangkat benar-benar 91,5 shi.
"Setelah naik pangkat, aku dikirim ke Beijing. Setahun di sana, aku duduk diam sepanjang hari, tidak membaca setahun pun. Lalu aku kembali ke selatan untuk kuliah di Universitas Nasional Nanjing. Sebelum masuk, aku mengunjungi Master Yungu di Kuil Qixia. Kami duduk berhadapan di sebuah ruangan selama tiga hari tiga malam tanpa tidur."
Master Yungu bertanya: "Kebanyakan orang tidak bisa menjadi suci karena pikiran kacau mengikat mereka. Kamu duduk tiga hari tanpa satu pikiran kacau pun — kenapa?"
Liao Fan menjawab: "Nasibku sudah diramal Tuan Kong. Sukses-gagal, hidup-mati, semua sudah ditentukan. Mau berpikir pun percuma."
Master Yungu berkata:
"Selama manusia masih punya pikiran, ia terikat oleh hukum alam. Tapi hanya manusia biasa yang terikat. Orang yang sangat baik — nasib tidak bisa mengikatnya. Orang yang sangat jahat — nasib juga tidak bisa mengikatnya. Selama 20 tahun kamu diatur ramalan — itu bukti kamu manusia biasa."
Liao Fan bertanya: "Kalau begitu, bisakah nasib dilawan?"
Master Yungu menjawab, "Nasib diciptakan oleh diri sendiri — berkah dicari dari dalam hati. Ini ajaran kitab suci. Dalam kitab Buddhis dikatakan: 'Minta kekayaan dapat kekayaan, minta anak dapat anak, minta panjang umur dapat panjang umur.' Buddha tidak berdusta."
Master Yungu bertanya: "Coba renungkan — apakah kamu pantas mendapat pangkat tinggi? Apakah kamu pantas punya anak?"
Liao Fan merenung lama dan menjawab: "Tidak pantas." Lalu ia mengakui kelemahannya:
"Pejabat biasanya punya rupa beruntung. Nasibku tipis, tidak bisa mengumpulkan jasa. Tidak tahan repot, tidak bisa memaafkan orang. Sering memamerkan kepintaran, menekan orang lain. Bicara sembarangan — semua ini ciri-ciri orang tidak beruntung. Mana pantas jadi pejabat?"
Soal tidak punya anak, ia mengakui 6 kesalahan besar:
1. "Tanah yang kotor subur, air yang jernih tidak berisi ikan." Ia terlalu bersih (kebersihan berlebihan).
2. "Keharmonisan memelihara semua makhluk." Ia mudah marah — tidak harmonis.
3. Cinta kasih adalah akar kehidupan. Ia terlalu menjaga reputasi dan nama baik, sering tidak rela berkorban demi orang lain — kejam.
4. Banyak bicara — menghabiskan energi.
5. Suka minum alkohol — merusak vitalitas.
6. Suka begadang duduk semalaman tanpa menjaga kesehatan — menghabiskan energi spiritual.
"Bukan hanya soal pangkat! Orang yang punya kekayaan ribuan emas — pasti ia adalah orang 'seribu emas'. Yang punya seratus emas — pasti orang 'seratus emas'. Yang mati kelaparan — pasti orang yang memang ditakdirkan begitu. Langit hanya memberikan sesuai dengan 'bahan' yang ada — tidak pernah menambahi sedikit pun niat pribadi."
"Sekarang kau sudah tahu kesalahanmu — perbaikilah semua kebiasaan burukmu. Harus mengumpulkan kebajikan, harus melapangkan hati (包容), harus harmonis dan penuh kasih, harus menjaga semangat. Yang dulu — biarlah seperti mati kemarin. Yang akan datang — lahir hari ini. Inilah 'tubuh yang terlahir kembali karena kebenaran' (義理再生之身)."
Tubuh darah dan daging — terikat oleh takdir karena didorong oleh karma masa lalu. Tubuh kebenaran — jika tekad dan sumpahmu lebih besar dari karma masa lalumu, kau disebut "terlahir kembali karena kekuatan sumpah" (乘願再來). Tubuh ini bukan lagi milik pikiran delusi — melainkan alat untuk melayani semua makhluk.
"Kitab Sejarah (Shang Shu) berkata: 'Bencana dari langit masih bisa dihindari — tapi bencana yang kita buat sendiri, tak bisa dielakkan.' Kitab Puisi (Shi Jing) berkata: 'Selaraskan hatimu dengan kehendak langit — carilah kebahagiaanmu sendiri.'"
Lalu Master Yungu mengingatkan bahwa ramalan Tuan Kong tentang Liao Fan — tidak lulus ujian dan tidak punya anak — adalah "bencana dari langit" (akibat karma masa lalu), dan itu bisa diubah. Caranya? Perluas kebajikan, lakukan kebajikan, kumpulkan kebajikan secara diam-diam (陰德). Berkah yang kau ciptakan sendiri — pantas kau nikmati.
"Berkah dari keluarga yang mengumpulkan kebajikan pasti akan melimpah pada keturunannya." — baris pertama I Ching. Master Yungu bertanya: "Percayakah kau?" Liao Fan menjawab: "Aku percaya." Ia pun bersujud dan menerima ajaran itu.
Liao Fan mengaku di depan Buddha segala dosa masa lalunya — tanpa ada yang disembunyikan. Ia menulis sumpah: melakukan 3000 perbuatan baik, sebagai balas budi pada langit, bumi, dan leluhur. Target pertamanya: lulus ujian sarjana (ia saat itu hanya berpredikat sarjana rendahan).
"Master Yungu memberiku buku 'Pencatat Kebaikan dan Keburukan' (功過格). Katanya, catat setiap hari apa yang kulakukan — kebaikan ditambah, keburukan dikurangi. Ia juga mengajarku mantra Zhun Ti, agar keyakinanku semakin kuat."
Master Yungu menjelaskan prinsip universal:
"Ahli jimat berkata: 'Jika tidak bisa menggambar jimat, setan dan dewa akan tertawa.' Rahasianya: jangan punya pikiran. Saat memegang kuas, lepaskan semua urusan — kosongkan batin. Dari titik hening itu, goreskan semuanya tanpa berpikir — jimat itu akan manjur."
Prinsip yang sama berlaku untuk melafalkan mantra, bermeditasi, atau membaca sutra. Tujuannya: mengembalikan batin pada keheningan asali. Batin yang hening adalah batin sejati. Batin sejati tidak punya pikiran — pikiran adalah batin palsu.
Praktikkan dalam hal-hal kecil: Rezeki cukup atau kekurangan — nasib kaya dan miskin bisa kau atur. Sukses atau gagal — nasib tinggi dan rendah bisa kau atur. Ini semua kembali pada prinsip yang sama.
"Hidup dan mati adalah hal besar bagi manusia — sungguh mengerikan! Jika kau tidak mencari pencerahan dengan sungguh-sungguh, kau hanya akan menjalani hidup hewani. Hanya mereka yang batinnya benar-benar hening — yang tidak memikirkan untung-rugi, tidak memikirkan hidup-mati — yang bisa menyentuh hakikat."
💡 Intisari Bab 1: Nasib ada dan bisa diramal — tapi bisa diubah. Kuncinya: sadar akan kesalahan sendiri, bertobat sungguh-sungguh, berbuat baik tanpa pamrih, menjaga ketenangan batin. "Yang dulu — biarlah mati kemarin. Yang akan datang — lahir hari ini." Inilah transformasi sejati.
— Bersambung ke Bab 2: Metode Memperbaiki Kesalahan —